Kalau ada yang bilang cewek sama cowok mustahil bisa sahabatan tanpa ada perasaan, bawa orangnya ke depanku. Karena aku tahu dengan pasti aku, Audi, adalah seorang perempuan. Aku juga tahu Bimo, sahabatku, adalah laki-laki. Bisa kok kami bersahabat, empat tahun, tanpa ada salah satu dari kami yang tergelincir ke jurang gelap bernama jatuh cinta.
Tidak sulit untuk aku dan Bimo jadi sepasang sahabat yang saling melengkapi, yang bisa membuat sepatu apa pun iri. Kami kiri dan kanan. Kami pagi dan malam. Kami adalah es kopi kekinian dan bola tapioka hitam yang ada di dasar gelasnya.
Kami bertemu di kampus, disatukan karena satu band bareng, di bawah nama band Suara Dari Hati atau disingkat Suri. Band kami band dengan gaya jazz, musik yang terjadi kalau Billie Holiday ngopi bareng Chet Baker, lalu sepakat untuk nge-jam bareng. Kami merasa keren, walapun kata Mamaku: ‘Musiknya bikin ngantuk.’
Aku penyanyinya di band itu bersama Bimo. Sempat laku dimana-mana, sampai akhirnya, ketika kami semua lulus kuliah, demo band yang gagal membuat band kami hilang arah. Label gak ada yang mau. Jualan sendiri gak ada yang beli. Panggung makin sedikit. Kami mulai jarang latihan karena masing-masing sibuk kerja. Band kami bubar. Pemimpin band kami bilang, ‘Udahlah. Musik gini gak bakal laku. Gue mau buat musik pop aja.’
‘Eh, seni bukan masalah laku gak laku, tapi tentang mencintai apa yang kita lakukan,’ kata Bimo, gagah. Aku setuju.
‘Tunggu sampai lo punya anak,’ kata salah satu anak band yang lain. ‘Gak ada yang lebih menggoyahkan idealisme dari uang sekolah anak yang harus dibayar.’
Band kami bubar, tapi aku dan Bimo masih sesekali jadi backing vokal musisi-musisi top di Jakarta.
Dari kuliah, aku ada di setiap jatuh cinta yang Bimo alami, dia juga ada di setiap patah hati yang aku pikul. Bimo adalah orang yang pertama kali aku telepon ketika aku ingin curhat soal laki-laki yang minta nomer teleponku di depan resepsionis Celebrity Fitness. Aku adalah orang yang dia telepon ketika dia cerita soal gebetannya yang dia temani makan di kantin kampus siang-siang.
Bedanya, saat ini, Bimo tidak punya siapa-siapa.Aku punya David.
Pacarku selama 17 bulan ini, David, juga kenal baik dengan Bimo. Untungnya aku punya pacar yang pengertian, tidak seperti cowok lain yang melarang pacarnya tetap berteman dengan sahabat cowoknya. Padahal, si cewek lebih dulu kenal sahabatnya, dibanding si pacar tukang larang ini.
David memang beda, dia dewasa. Mungkin ini karena aku juga pernah bilang ke David, ‘Percaya sama aku, Bimo cuma teman. Selamanya akan cuma teman.’ David bilang, ‘Aku gak curiga kok. Kalau pacaran masih ada kecurigaan, mungkin kita pacaran dengan orang yang salah.’
David juga penuh kejutan. Empat bulan lalu dia melamar di Seggara, Jakarta Utara. Di pinggir pantai, kami duduk berdua di satu meja, lagu favoritku bermain tiba-tiba, dia mengeluarkan cincin sambil membawa satu buket anggrek merah jambu. Tidak banyak yang tahu aku suka bunga itu. David memang penuh kejutan.
***
Hari ini terasa terlalu ramai untuk hari Sabtu. Di dalam mobil, Bimo menyetir dengan wajah lurus ke depan. Dia memakai baju The Simpsons, orang dewasa lain mungkin terlihat aneh memakai baju kartun seperti ini, tapi entah kenapa di Bimo terlihat cocok.
‘Makasih udah mau nemenin gue,’ kataku. ‘Sorry ngerepotin.’
‘Kapan sih lo gak ngerepotin gue?’ tanya Bimo, bercanda.
‘Gue pulang naik grab kok, janji cuma nganterin doang, gue juga tahu lo ada urusan lain.’ Aku mengepalkan tangan, kesal. ‘Bener-bener ya tinggal tiga hari lagi nikah ada aja dramanya.’
Ini drama yang aku maksud: Catering makanan yang sudah aku sewa untuk resepsi hilang tanpa kabar. Untungnya, ada catering lain yang menyanggupi membuat makanan untuk 400 orang dengan deadline semepet ini. Jadi, hari ini kami buru-buru food testing, memastikan minimal makanannya bisa ditelan. Kekacauan seperti ini bikin kesal, tapi aku yakin setahun kemudian pasti jadi sesuatu yang seru untuk diceritakan.
Bimo aku ajak karena selain aku dan David sedang dipingit, David kebetulan juga lagi di luar kota. Bimo menoleh ke arahku, lalu bertanya, ‘Hari ini ada siapa aja?’
‘Lo, gue, sama calon ibu mertua.’
‘Oh baguslah ada si tante, seleranya bagus tuh,’ kata Bimo. Keluarga David cukup akrab dengan Bimo, karena Lebaran kemarin mereka sempat memesan rendang masakannya.
‘Yang lainnya?’ tanya Bimo.
‘Cukup sih perwakilan dua keluarga, lo kan perwakilan tamu tuh, sebagai pihak ketiga biar tahu rasanya enak apa enggak.’
Bimo mengangguk, lalu melanjutkan memerhatikan jalanan.
Ada yang beda dengan mobil Bimo hari ini. Mobilnya sunyi, tidak ada apa-apa yang terdengar. Padahal, biasanya tape dinyalakan. Aku menyalakan tape. Lagu bermain di radio. Bimo buru-buru mengecilkan volume, ‘Gue lagi pusing nih, suaranya kecil aja ya.’
Lalu dia, kembali memerhatikan jalan.
***
Di ruang food testing, satu demi satu makanan datang. Kami duduk di sebuah meja yang terlalu besar untuk tiga orang. Calon mertua, yang datang hampir bersamaan dengan aku dan Bimo, ada di ujung meja, sementara aku dan Bimo, duduk bersebelahan, di ujung yang lain.
Di tengah-tengah mencoba kambing guling, Bimo menghela napas. Dia masih terlihat muram.
Ini ada yang salah, dan terlalu lama untuk dibiarkan. Aku pun bertanya, ‘Bim, lo kenapa sih? Beda banget hari ini.’
Bimo malah menjawab, bersuara pelan agar calon mertua tidak mendengar, ‘Mau tau banget atau mau tau aja?’
‘Lo becanda lagi, gue siram ya.’ Aku bersiap memegang gelas.
‘Ya udah,’ kata Bimo. ‘Beneran nih ya lo mau tau kenapa gue begini?’
‘Iya bener. Buruan ngomong lama banget deh.’ Aku menegak es jeruk sambil menunggu Bimo bicara.
‘Gue sayang sama lo,’ kata Bimo.
‘UHUUUUUUUUK!’ aku tersedak, bulir jus jeruk nyangkut di tenggorokan.
‘Audi! Gak apa-apa?!’ seru calon mertua, dari ujung meja, panik. Aku buru-buru mengambil serbet dan menghapus noda jeruk di bajuku.
‘Gak apa-apa,’ jawabku, singkat.
‘Kok sampai keselek sih?’ tanya Bimo. ‘Nih air putih.’
Aku berusaha tenang.
‘Enggak, gue salah denger tadi, gue pikir lo bilang gue sayang lo. Lo ngomong apa sih tadi?’ Aku menegak air putih untuk membasuh bulir jeruk yang nyangkut.
‘Gue sayang sama lo,’ kata Bimo, lagi.
‘UHUUUUUUK!’ Kali ini aku tersedak lumayan dahsyat sampai ada air keluar dari lubang kanan hidungku.
‘Astaga Audi, aduh gak apa-apa?’ tanya calon mertua.
‘Gelasnya kegedean nih,’ kataku, mencari alasan..
Calon mertua terlihat panik, ‘Iya nih, duh, mas sini mas, ini nanti pas resepsi pakai gelas dari sini gak? Gelasnya bisa dikecilin gak?’
Si pelayan terlihat panik menjawab pertanyaan dari calon mertua.
Aku melotot ke arah Bimo, setengah berbisik, ‘Lo becanda apa gimana sih?’
‘Gue serius,’ kata Bimo, singkat. Aku semakin melotot. ‘Hah? Lo sayang sama gue? Lo gila apa bego sih? Pilih salah satu aja, jangan semuanya. Kita kan udah bahas ini dulu. Empat tahun yang lalu, kita bilang kita bakalan best friend forever. Ya kan? Kenapa lo tiba-tiba begini?’
‘Iya, itu kan empat tahun yang lalu.’
‘Terus?’
‘Terus gue begini sekarang,’ kata Bimo.
‘Kenapa lo jadi sayang sama gue, Bim? Kok bisa-bisanya lo begitu?’
‘Audi.’ Bimo terlihat bingung. ‘Gue gak bisa ngatur hati gue maunya kemana. Dia maunya elo. Gimana dong?’
‘Gimana dong?’ tanyaku.
‘Iya. Gimana, dong?’ tanya Bimo balik.
‘Bim, kenapa ini jadi tanggungjawab gue? Kenapa kayak lo udah nabrakin mobil ke warung, terus warungnya ancur, terus lo bilang ke ibu warungnya, ‘Gimana dong?’ Ya elo yang punya perasaan, elo yang urusin sendiri lah.’ Aku semakin kesal.
‘Nah, ini gue makanya bilang ke elo.’
‘Yah gak di food testing nikahan gue dong? Gak pas satu meja sama calon mertua dong?’
Bimo menggeleng. ‘Ya maaf deh di Youtube gak ada video Tutorial Uninstall Perasaan ke Sahabat Sendiri.’
Aku berkata keras. ‘Asem lo!’
Calon mertua melihat ke arah kami, ‘Ada apa, Audi? Apa yang asem?’
‘Ini tante,’ kataku. ‘Kok agak asem ya sate kambingnya?’
Calon mertua melotot, ‘Hah? Yang bener? Astaga. Mas-mas! Sini! Ini kok asem ya?!’
Aku menepuk jidat.
‘Kita keluar aja,’ kataku kepada Bimo. Aku lalu pamit kepada calon mertuaku, sambil menarik lengan baju Bimo, menuntunnya keluar dari ruangan makanan.
***
Aku dan Bimo berdiri berhadapan di depan mobilnya, di parkiran. Aku masih tidak menduga Bimo mengatakan hal seperti itu kepadaku. ‘Lo balik deh sekarang. Beneran. Lo maunya apa? Dengan ngomong kayak gitu lo mau apa?’
‘Gue cuma mau lo tahu,’ kata Bimo. ‘Itu doang kok.’
Aku menggaruk kepalaku dengan frustasi. ‘Sejak kapan?’
‘Dari lama. Dari dua tahun yang lalu, dari band kita kelar. Gue gak tahu. Perasaan itu datang pelan-pelan, lalu tiba-tiba. Ini semua dimulai setelah kita nonton konser Naif di Istora. Tiketnya masih gue simpan. Lo gue anterin pulang di depan pagar, gue anterin lo, lo turun dari mobil. Gue ngeliat punggung lo membuka pintu, masuk ke dalam rumah. Lalu, -gue ngerasa ada yang hilang.’
‘Apa yang ketinggalan? Handphone?!’
‘Elo lah!’ Bimo terlihat kesal. ‘Gue kehilangan lo! Lo turun dari mobil gue, gue langsung kangen mau ketemu lagi. Itu. Itu yang bikin gue ngerasa ada yang ketinggalan!’
Hening.
‘Gila lo ya.’ Aku mengusap-usap wajahku, frustrasi. ‘Gue bangga banget sama ini lho padahal. Ini, yang kita punya, gue gak tau kalau diem-diem lo jadi suka sama gue. Gue gak tau.’
‘Lo gak nyadar kenapa waktu itu di Alfamart gue tiba-tiba beliin cokelat, gue bilang, ini biar semangat ngerjain tugas kantor.’
‘Ya gue pikir lo baik aja,’ kataku, jujur.
Aku baru sadar, kadang orang bisa salah mengartikan perhatian dengan kasih sayang, tapi kali ini aku sebaliknya. ‘Pantesan aja lo tiba-tiba jadi baik ke gue belakangan ini. Gue pikir lo udah tobat jadi orang. Gue pikir gara-gara lo nonton serial apa itu anak muda kena kanker, yang bikin lo jadi sadar bahwa hidup ini singkat terus harus berbuat baik sama orang lain. Gak taunya lo jatuh cinta sama gue! Astaga, Bimo!’
Aku jongkok, memandangi Bimo yang juga gak tau harus berkata apa. ‘Terus lo mau apa ngomong kayak gini? Lo mau gue tinggalin David? Terus tiba-tiba cring, gue bilang Bim, surprise, gue juga selama ini menyimpan perasaan kepada lo. Ini bukan film Thailand kesukaan lo, atau komedi romantis ala Hollywood yang selalu berakhir happy ending, Bim. Ini kehidupan nyata. Lo punya perasaan, bisa jadi gak disambut.’
‘Iya,’ kata Bimo.
‘Ulangin kata-kata gue: ini bukan film,’ kata Audi.
‘Ini. Bukan. Film,’ kata Bimo. ‘Gue ngerti.’
‘Terpaksa gue kasih ending lo, Bim. Gue bisa pastiin: gue gak sayang sama lo,’ kataku, tegas. Aku harus melakukan ini untuk kami berdua. Bimo diam saja. Aku sekarang bingung, harus berkata apa.
Bimo ikutan jongkok. ‘Gue yang salah kok jadi kepleset begini. Gue cuma gak mau aja kalau nanti, nanti, suatu saat gue nikah sama orang lain, siapa lah gue kenal di Tinder, Bee Talk, atau apa pun itu. Lalu, kita ketemu lagi, di suatu hari, kita ngobrol, mungkin cuma nanya hari lo gimana, atau anak lo udah bisa apa, gue gak mau kalau itu terjadi, gue menyesal gak pernah ngomong ini sama lo. Gue gak gak mau gue menua sambil bertanya-tanya, ‘Apa yang terjadi kalau gue ungkapin perasaan gue ke Audi, ya.’
Aku sekarang berdiri. ‘Nih. Ini yang terjadi, Bimo. Perasaan lo bertepuk sebelah tangan. Tangan gue nih, tangan gue, gue umpetin nih.’ Aku menaruh tanganku di belakang punggung, lalu melanjutkan, ‘Gue udah punya pasangan, yang baik banget. Pasangan yang selama ini gue cari, yang bisa membuat gue nyaman. Ini gak adil buat dia, kalau dia tahu sahabat ceweknya ternyata selama ini diam-diam naksir. Bim, kalau David tahu gimana? Lo udah mikir sampai kesana belom?’
‘Dia udah tahu,’ kata Bimo, datar.
‘Hah?’
‘David udah tahu dari seminggu yang lalu. Gue yang bilang sama dia. Di chanel discord. Berdua. Habis main PUBGM bareng.’
Bimo dan David memang sudah akrab. Mereka sering bermain PUBG bareng. Walaupun, kata David, Bimo jadi beban. Tapi lumayan lah mereka sudah empat kali chicken dinner.
‘Terus dia gimana?’ tanyaku.
‘Dia nanya Audi tau gak, ya gue jawab gak tau. Dia bilang dia percaya sama lo, dia percaya lo gak akan kenapa-kenapa. David bilang ke gue, ‘Lo tau kan Bim, kalau ini enggak sehat.’ Gue bilang ke David, ‘Iya gue tahu, gue segera pergi dari hidup kalian, kok.’
‘Kenapa lo bilang ke dia?’
‘Karena gue gak kuat. Beneran gue udah gak kuat. Inget acara lamaran lo? Gue bahkan yang nemenin dia bikin surprise pesta acara lamaran lo itu. Gue yang kasih saran dia, bunga apa favorit lo: bunga anggrek merah jambu yang dibeli di pasar bunga Bintaro, di tokonya Pak Mudi, karena gue tahu kita pernah suatu sore hari ngelewatin toko itu, lo hirup bau bunganya, dan lo senyum lebar banget dari kuping ke kuping. Gue yang beli langsung bunga itu, gue kasih ke David, gue pilihin yang terbaik buat dia kasih ke elo. Gue yang kasih tau musik apa yang harus bermain, makanan penutup apa yang harus disajikan. Gue yang kasih tau dia semuanya, Audi. Gue. Gue. Gue. Dan ketika lo posting foto lo diinstagram berdua sama David, gue berharap itu gue.
Bimo menghela napas. Dia lalu menggeleng, ‘Gue Audi. Gue, yang terlalu bodoh untuk bisa sayang sama lo.’
Handphone-ku bergetar. Calon mertua menelpon. Dia pasti butuh aku untuk melanjutkan food testing. Aku berdiri, bersiap untuk melangkah kembali ke dalam. ‘Lo pulang aja deh. Tapi, lo tetep nyanyi di nikahan gue kan?’
‘Iya, di situ pertemuan terakhir kita.’
‘Kenapa?’ tanyaku.
‘David tau perasaan gue. Yang paling adil buat dia, adalah untuk gue pergi menjauh dari lo, dari kalian. Lebih baik gue kehilangan sahabat, daripada lo kehilangan kebahagiaan lo.’
Aku berdiri dan berjalan ke arah Bimo. Aku melewatinya. Bimo tertegun. Aku membalikkan badanku, melihatnya tepat ke matanya, dan bilang, ‘Maaf ya, Bim. Semoga lo dapet apa yang lo mau, tapi yang jelas: itu bukan dari gue.’
Itu adalah kata terakhir yang aku ucapkan ke dia.
***
Berkat dipingit, pertemuanku kembali dengan David, benar-benar ketika hendak ijab kabul. Selesai ijab kabul, kami lantas resepsi. Di atas pelaminan, kami juga belum sempat ngobrol satu dengan lainnya. Tamu keburu datang silih berganti, salaman bersambut salaman lagi. Begitu terus. Setelah beberapa saat, kami bisa bernapas lega. Kami duduk sebentar, sambil minum air putih dari gelas plastik.
David melihat ke arahku, kalimat pertamanya, setelah dua minggu tidak ketemu adalah, ‘Bimo udah bilang?’
‘Iya,’ kataku. ‘Tiga hari lalu.’
‘Baguslah.’
David menghabiskan air di gelasnya .
‘Kamu gak mau tau ceritanya? Aku jawab apa?’
‘Gak perlu,’ kata David.
‘Kenapa?’
‘Karena kamu ada di sini.’
Aku melihat ke arah David. Kilap lampu dekorasi terpantul di bola matanya. David tersenyum hangat. Aku memeluknya erat.
Kami melanjutkan menyalami tamu undangan. Tidak berapa lama kemudian, bersama wedding band, Bimo bernyanyi di atas panggung. Dia bilang ke tamu undangan, dia mau menyumbangkan sebuah nyanyian, sebuah lagu cinta, tentang cinta yang bertepuk sebelah tangan. Aku melihat ke arah David, dan berkata, ‘Kalau kamu gak nyaman, aku bisa ilang ke WO, aku minta dia berhenti bernyanyi.’
‘Biarin, biarin dia nyanyi, gak apa-apa.’ David tersenyum. ‘Hari ini dia bisa bernyanyi buat kamu. Tapi, mulai besok, aku bisa bernyanyi setiap pagi, setiap kamu bangun tidur, untuk kamu. Dengan suara yang jelek lebih jelek, tentu saja.’
Aku tertawa.Ah, David, kamu adalah bukti mimpi bisa menjadi kenyataan.
Bimo bernyanyi dengan nada-nada yang indah.
Begitu indahnya, sampai beberapa orang yang sedang mengantri kambing guling berhenti, untuk mendengarkan sejenak. Mereka yang datang berpasangan saling memeluk satu dengan lainnya. Tangan Bimo mengenggam mikfronnya erat. Aku mengenggam tangan David erat.
David kembali melihatku dan berkata, ‘Kayak di film, ya. Aku gak nyangka kita berakhir di sini juga. Pacaran 17 bulan, mencoba memahami satu sama lain. Mencoba memenangkan hati orangtuamu, ternyata, berakhir dengan manis. Berakhir happy ending.’
Aku mengangguk.Sayup-sayup, masih terdengar suara Bimo.
Tidak seperti film, kehidupan nyata, bisa punya ending yang berbeda.