Ketiga kalinya Toni mencoba memegang kupingku, aku tidak bisa tahan lagi. Kebiasaan memegang kuping sebelum tidur ini membuatku risih. Awalnya memang tidak apa-apa, tetapi lama-kelamaan aku jadi susah tidur: kuping panas dan lengket, hasil dari tangan dia yang penuh keringat.
Toni masih umur lima tahun, tetapi tangannya cukup berat untuk membuat ujung kupingku jadi melar ke bawah. Rasanya seperti ada Ant-Man gelantungan di sana. Sakitnya bisa berhari-hari, terutama di batas antara kuping dengan pipi.
Sebelum tidur, aku sudah bilang ke Toni mulai malam ini tidak ada pegang-memegang kuping lagi. Dia bilang iya. Tapi, yah, seorang balita mungkin masih belajar memegang janji. Diam-diam, waktu aku sudah merem, Toni dua kali memegangnya. Percobaan pertama dan kedua, aku masih bisa menghalaunya. Namun, di percobaan ketiga ini, baru aku protes.
‘Cukup, Ton. Papa gak bisa tidur,’ kataku.
‘Kalau gak pegang kuping, aku yang gak bisa tidur, Pa,’ kata Toni memelas.
‘Enggak, pokoknya enggak,’ kataku.
Toni terdiam. Aku terenyuh.
‘Lima menit, boleh, Papa hitung, ya. Lima menit.’
Toni memegang kupingku. Tepat lima menit, aku menyuruh dia berhenti. Dia menawar, aku menolak. Toni kesal, tetapi aku sudah terlalu mengantuk untuk menanggapinya.
Paginya, aku mengantar Toni sekolah. Pre-school dia masuk pukul 7 pagi. Setengah mengantuk, aku menyetir. Toni duduk di kursi depan, dengan seatbelt yang kebesaran. Dia tidak mengajakku ngobrol sejak bangun tidur. Silent treatment, memberikan hukuman dengan tidak mengajak bicara, memang cara ngambek favoritnya.
Toni sibuk melihat-lihat buku cerita bergambarnya. Meskipun belum bisa membaca, dia tenang jika tangannya memegang buku. Jari telunjuknya diusap-usapkan ke baju tokoh utama dalam cerita itu, yang berwarna merah terang.
Toni suka sekali warna. Tidak, aku ralat: Toni terobsesi dengan warna. Sudah beberapa bulan ini dia mengoleksi macam-macam warna dalam bentuk satu buku tulis berisi guratan dari cat air, atau pensil warna.
Mencoba untuk membuka obrolan dengan Toni (yang masih menunjuk baju merah dalam buku), aku bertanya, ‘Kamu suka banget merah, ya?’
Toni melihat ke arahku. ‘Merah?’
Akhirnya, silent treatment-nya pecah juga. Wajar, ini topik favoritnya.
‘Itu, warna bajunya. Merah,’ kataku.
‘Ini bukan merah, Pa. Bukan red. Ini vermillion.’
‘Papa gak ngerti bedanya, Nak.’
Toni hanya diam saja.
‘Jadi apa warna merah favorit kamu?’
‘Carmine.’
‘Bedanya sama, apa tadi? Vermillion?’
‘Carmine lebih gelap daripada vermillion.’
Aku mengangguk, seolah-olah mengerti.
‘Papa taunya maroon. Itu pun karena ada bandnya.’
Toni hanya diam saja. Tentu saja jokes bapak-bapak tidak kena ke anak balita.
Sesampainya di sekolah, Toni turun dari mobil, dia jalan sendiri ke dalam gedung. Setelah dia masuk gedung, aku buru-buru membuka handphone, melihat aplikasi order pekerjaan di email. Pekerjaanku sebagai penerjemah dokumen legal untuk perusahaan asing membuatku bisa bekerja sefleksibel ini. Aku bisa mulai kerja kapan saja aku mau.
Di email ada tiga permintaan penerjemah.
Di WhatsApp ada dua dari klien langganan.
Di WhatsApp juga, ada satu chat dari asisten rumah tangga di rumah Papa. ‘Pak, maaf, wifi rumah mati, kayaknya kesenggol, boleh dibetulin? Saya gak ngerti.’ Aku jawab, ‘Siangan saya mampir.’
Aku mampir ke kafe sebelah sekolah Toni. Selesai mengerjakan dua dokumen, pukul dua belas siang aku sudah menunggu di bangku kayu depan sekolah Toni. Dia keluar dari dalam sekolah. Kami berdua berjalan ke arah parkiran.
Toni masuk ke dalam mobil. Di tangannya ada kertas origami berwarna hijau. Hijau yang jenis apa, entah, aku tidak berani bertanya. Hijau yang aku tahu cuma bisa bikin goyang. Hijau Daun maksudnya. Band, ada band namanya Hijau Daun. Tuh kan, untung jokes ini tidak keluar di depan Toni.
Sesampainya di rumah, aku menemani Toni makan siang. Dia makan seporsi nasi dan sepotong ayam. Aku cukup minum teh saja, biar Toni bisa langsung tidur siang tanpa menungguku selesai makan.
Berkat dongeng cerita rakyat di Spotify, Toni terlelap di kamarnya. Ketika melewati ruang tamu, aku menitipkan Toni ke asisten rumah tangga. ‘Nanti kalau dia nyariin, WhatsApp saya saja.’
‘Baik, Pak,’ jawabnya.
‘Saya pergi sebentar.’
Sebelum melangkah ke garasi, aku mengambil paket yang baru sampai dan membukanya. Isinya pengharum mobil. Di dalam mobil, aku menempelkannya di lubang AC dekat dasbor. Ada dua sekarang. Mobil baru ini baunya masih lumayan menyengat. Aku tidak terlalu suka.
Baunya terlalu mengingatkanku kalau ini mobil baru. Mobil yang terpaksa kubeli beberapa bulan semenjak kejadian itu. Semenjak istriku pergi mendadak, begitu saja. Semenjak Toni berhenti punya ibu.
Aku menyalakan mesin mobil.
Lalu menyetir pergi ke rumah Papa.
*
Rumah Papa terletak di pinggir jalan raya. Rumah yang cukup besar di antara tetangganya. Di sekeliling rumah itu dibangun beberapa macam jenis usaha. Ada restoran Korea, apotek, dan, yang paling baru, sebuah tempat co-working megah.
Di depan rumah Papa ada pangkalan ojek.
Di seberang jalan, ada kantor cabang sebuah bank swasta.
Aku parkir di depan pagar rumah Papa. Seorang asisten rumah tangga membukakan pagar. Dia lalu memberi tahu kalau Papa sedang duduk santai di sofa, sedang menunggu waktu makan siang.
Aku melihat Papa saat berjalan ke arah rumah. Papa duduk di sofa. Dia memakai kemeja putih, kancing atas terbuka. Rambutnya putih. Wajahnya tirus.
Aku menyapa Papa, bertukar kabar. Sehat, katanya. Terakhir kali aku bertemu Papa saat Lebaran tahun lalu. Di umur sekarang, dengan keluarga yang ada, waktu bertemu orang tua jadi semakin jarang. Kalaupun bertemu, pasti karena ada urusan. Seperti sekarang ini, urusan wifi.
Cukup dengan membetulkan kabel yang longgar, wifi kembali menyala. Aku bersiap untuk pulang ketika Papa melihat ke arahku, dan berkata, ‘Kemarin waktu bongkar gudang, si Mbak nemu ada mainan kamu dulu. Bisa kamu kasih ke anakmu. Satu boks isinya dinosaurus. Kamu kan dulu suka main itu.’
Memang, dulu, setiap pulang dari perjalanan bisnisnya, Papa pasti membawakan aku mainan-mainan dinosaurus. Berawal dari buku, sampai ke figur-figurnya. Ada yang besar, ada yang kecil. Setiap hari aku jejerkan mereka di teras depan. Aku kelompokkan ke dalam dua kategori, satu ubin untuk satu jenis.
Papa mendatangiku suatu pagi. Melihat dinosaurus yang terpisah-pisah, dia bingung, ‘Kenapa dibuat seperti ini?’
‘Dinosaurus dibagi dua, Pa, berdasarkan pinggulnya. Ornithischia, yang pinggulnya seperti burung. Satu lagi saurischia, pinggulnya seperti kadal.’
‘Jadi?’
‘Makanya, misalnya, stegosaurus di ubin yang kanan, Allosaurus di ubin yang kiri. Mereka beda jenis. Gitu, Pa.’
‘Papa gak ngerti bedanya, Nak.’
Aku ingat, aku kecewa sekali hari itu. Bukan karena Papa tidak mengerti, tetapi karena aku tahu Papa tidak tertarik untuk mencoba mengerti. Paling tidak, dia bisa bertanya lebih banyak lagi. Setidaknya terlihat antusias.
‘Jadi gimana? Mau dibawa gak nanti?’ tanya Papa, memecah lamunanku. ‘Banyak sekali dinosaurusnya itu.’
‘Boleh, nanti ya pas pulang,’ kataku.
Papa lupa, pembicaraan ini pernah terjadi saat terakhir kami bertemu. Satu boks dinosaurus itu juga sudah aku bawa pulang.
Asisten rumah tangga lalu menghampiri kami. Dia berkata makanan sudah siap, aku berkata akan ikutan makan. Aku lalu mengajak Papa ke ruang makan. Di atas meja sudah ada sayur asem, makanan kesukaan Papa. Di tengah meja ada nugget yang digoreng sedikit terlalu matang, satu botol saus tomat, dan teman akrabnya, satu botol sambal.
Aku mengambil nasi, dan nugget.
Lalu makan dengan lahap.
Papa mengunyah nasi dan sayur asem, sambil memandangiku. Dia bertanya, ‘Kamu mau saus tomat?’
‘Gak usah, Pa.’
Papa mengangguk. ‘Oke.’
Papa makan pelan. Dia mengunyah, seolah-olah sambil berpikir. Dia lalu mengambil air putih, menenggaknya. Dia kembali melihat ke arah botol saus tomat di depan wajahnya, lalu dia bertanya kepadaku, ‘Kamu mau saus tomat?’
Aku melihat ke arah Papa.
Perlahan aku jawab, ‘Boleh, Pa.’
Dia memberikanku botol saus tomat itu.
Semua bermula dari tahun lalu, dari percakapan Papa yang mulai tidak nyambung. Kalau sedang ngobrol dengan dia, kalimat yang kita lontarkan lewat begitu saja, dia malah merespons dengan kalimat lain. Seolah-olah ingin segera mengganti topik.
Waktu ulang tahunnya yang terakhir, ketika aku dan Papa sedang mengobrol tentang biaya listrik yang terus naik, Papa malah bercerita panjang tentang kejadian tahun 1996 ketika dia menyaksikan sebuah penjambretan di pinggir jalan. Waktu itu, dia berhasil menabrak pelakunya dengan motor. Berhari-hari, cerita itu terus diulang-ulang. Dia bahkan sering lupa sudah menceritakan hal yang sama ke orang lain.
Khawatir, seorang teman Papa main catur di komplek rumah menyarankanku membawanya berobat. ‘Teman saya awalnya seperti ini,’ katanya. ‘Awalnya ingatan jangka pendek yang hilang, informasi lima menit yang lalu pun dia bisa lupa. Berlanjut ke bertanya hal yang sama berulang kali, sampai akhirnya bahkan dia lupa kenapa bertanya soal itu. Mending bawa ke dokter dulu, deh.’
Aku membawanya ke dokter keesokan harinya.
Mendengar penjelasan dokter hari itu, aku menjadi khawatir dengan Papa. Dengan diriku sendiri juga. Aku tertanya, ‘Apakah penyakit ini turun-temurun?’
‘Tidak selalu, tapi mereka yang punya orang tua atau saudara dengan penyakit ini punya risiko yang lebih tinggi untuk mendapatkannya,’ jawab dokter.
Dalam perjalanan pulang dari rumah sakit,
Papa tidak banyak bicara. Aku juga.
*
Selesai makan siang, aku pergi ke dapur, membantu mencuci piring. Papa berjalan ke arah teras, tempatnya bersantai setelah makan. Aku melihat ke arah Papa yang duduk di atas kursi. Dari belakang, terlihat jelas badannya mulai habis dimakan waktu.
Dulu dia gagah, tegap, sosok yang aku pandangi dengan penuh rasa hormat. Dulu, ketika dia masih sering latihan dengan barbel dari kaleng cat berisi semen, aku masih disuruh memencet bisepnya yang mengembang di balik baju. Dia pamerkan dengan bangga. ‘Lihat nih, Papa punya telor.’
Sekarang, lengannya kecil, lemah. Untuk menaruh kopi kembali ke atas piring, aku bisa melihat tangannya sedikit bergetar. Sekarang, dia terlihat bisa kapan saja terjatuh dari duduknya.
Mama meninggal ketika melahirkanku, dari kecil aku hanya bersama Papa. Sampai ke Sekolah Dasar, Papa adalah teman terbaikku. Lalu muncul fase SMP itu, semua anak begitu, kan? Ketika masih kecil, orang tua adalah tempat bercerita soal teman. Ketika besar, teman adalah tempat bercerita soal orang tua.
Pada masa itu, aku merasa tidak pernah dipahami oleh Papa. Pada masa itu, curhatan semua anak remaja semua sama: orang tua ingin anak menurut, tapi anak juga ingin merdeka.
Pada masa itu, muncul jurang antara orang tua dengan anak remajanya.
Bedanya, di besar dan kecilnya.
Dalam kasus aku, jurangnya lumayan besar. Papa kehilangan aku semasa aku remaja. Aku sibuk nongkrong, bermain sama teman. Papa sibuk kerja. Kalaupun di rumah, Papa ada tapi tidak ada. Dia sibuk dengan hasil penelitiannya, buah dari pekerjaannya di sebuah perusahaan energi. Sementara aku sibuk tidak mengacuhkannya, seperti remaja pada umumnya.
Baru saat aku lulus kuliah, aku kembali dekat ke Papa.
Fase remaja lewat, fase dewasa datang. Fase kebijaksanaan muncul dalam diri, saat kita baru mengerti orang tua tidak wajib untuk sempurna. Sama seperti anak, tidak wajib untuk sempurna.
Asisten rumah tangga mengeringkan piring yang aku cuci. Dia lalu berkata, ‘Tadi malam, waktu membereskan piring di meja makan. Aku lihat Bapak berdoa di ruang tamu,’ katanya.
‘Oh ya?’ tanyaku.
‘Nama Bapak disebut berkali-kali,’ katanya.
Aku terdiam. Selalu, tingkat cinta paling tinggi adalah ketika namamu tersebut di doa malam seseorang.
Selesai mencuci piring, aku menghampiri Papa. Dia duduk di teras. Dulu, di teras ini aku mengerjakan PR, malam-malam sebelum tidur, ditemani Papa yang capek bekerja seharian. Momen yang setiap hari aku hindari. Aku paling sebal kalau papaku membentak ketika aku tidak bisa mengerjakan soalnya.
Puluhan tahun kemudian, ketika aku punya Toni, anakku sendiri, dan dia gagal lomba lari di sekolahnya, aku juga sempat membentaknya dari pinggir lapangan. Momen yang langsung aku sesali. Di saat itu, aku takut berubah menjadi ayahku, sosok ambisius yang memaksa anaknya jadi yang terbaik, dan kesal ketika anak tersebut gagal. Setiap anak takut menjadi orang tuanya, itu yang aku pikirkan.
Aku menemani Papa melihat sore yang mulai muram.
Tanda mau turun hujan.
Di halaman rumah Papa, ada pohon rambutan, tumbuh dari arah taman lalu menjorok masuk ke teras. Aku dulu suka bergelantungan di pohon ini. Di kepalaku, pohon rambutan itu terasa besar ketika kecil dulu. Aneh juga bagaimana semua terasa kecil, ketika kita sudah dewasa. Cara pandang kita terhadap dunia bisa begitu berubah.
Di ujung pohon rambutan, seekor burung datang dan memperhatikan kami. Aku tidak paham jenis-jenis burung, tetapi yang ini cantik sekali. Paruhnya hitam, warnanya bersambung sampai ke dadanya, seolah-olah membentuk sebuah jenggot. Kepala dan tubuhnya berwarna cokelat, kecuali aksen putih di lehernya. Kicauannya lantang.
Papa memperhatikan burung itu lekat-lekat. Dia lalu tertawa kecil. Dia berkata, entah kepada siapa, karena suaranya terlalu kecil untuk ditujukan kepadaku, ‘Mamamu suka sekali burung yang seperti ini.’
Dia lalu diam. Beberapa detik lewat.
Papa kembali berkata, ‘Di surga pasti banyak burung cantik.’
Angin yang mulai dingin berembus, udara mulai lembap. Bunga ekor kucing berwarna merah melambai ditiup angin. Aku memperhatikannya menari-nari. Perlahan-lahan. Papa melihat ke arahku, suaranya lirih, kali ini aku tahu dia berbicara kepadaku. ‘Maaf ya, Nak.’
Aku terdiam sebentar, sebelum bertanya, ‘Untuk apa?’
‘Untuk semuanya.’
Tidak ada buku panduan jadi orang tua. Tidak ada orang tua yang mau menjauh dari anaknya. Kami hanya mencari cara sendiri, untuk membahagiakan anak kami. Jadi, maaf kalau kami banyak tidak mengerti. Itu yang aku pahami, setelah jadi orang tua.
Aku mengangguk, perlahan.
Papa masih memandangi wajahku, dia lalu bertanya, ‘Kenapa kuping kamu?’
‘Kuping?’
‘Iya, itu, agak merah.’
‘Oh, iya. Lecet, Toni narik kekencengan, kalau mau tidur, dia harus pegang kuping.’
‘Dulu sama mamanya gitu juga, kan?’ ‘Maksudnya?’
‘Dulu, sebelum tidur, dia pegang kuping mamanya,’ kata Papa.
Betul. Aneh juga, di antara kesulitannya mengingat, Papa justru ingat hal ini. Aku yang lupa. Toni memang pernah susah tidur, lalu dia pegang kuping mamanya. Cuma sekali. Aku jadi ingat, istriku pernah cerita ke Papa di sebuah makan malam. ‘Kemarin Toni aneh banget deh, Pa, masa tidur harus pegang kuping. Tapi gak pernah lagi sih,’ kata istriku membuka percakapan malam itu.
Awan hitam beriringan muncul di atas pagar, seiring dengan angin yang semakin dingin berembus. Bunga ekor kucing berubah warna di bawah gelapnya mendung. Seolah-olah berubah dari merah jadi vermillion. Asisten rumah tangga memanggil Papa masuk. ‘Waktunya istirahat, Pak. Sebentar lagi juga mau hujan.’
Aku berdiri. ‘Aku pulang ya, Pa.’
Papa hanya mengangguk.
Lalu aku memeluknya, erat. Papa tampak kaget. Dia membalas pelukanku. Lalu kami terdiam, larut dalam dekapan masing-masing. Aku berkata, ‘Maaf ya, Pa.’
‘Untuk apa, Nak?’
‘Untuk semuanya.’
Lalu aku pulang.
*
Malam harinya, ketika pekerjaanku selesai, dan Toni sudah gosok gigi, aku menyuruhnya bersiap tidur. Toni memakai piama SpongeBob yang bagian bahunya kena lunturan baju lain. Di kasur, kami lalu berdoa sebelum tidur. Aku menyebut nama istriku (Toni, tentu saja, menyebutnya ‘Mama’).
Toni lalu bertanya, ‘Kalau di surga gak usah tidur ya, Pa?’
‘Kenapa emang?’
‘Kalau iya, Mama enak dong begadang terus.’
Aku tertawa kecil.
‘Kita doa untuk Kakek juga, ya. Biar Kakek sehat terus. Biar kita masih bisa main sama Kakek.’ Mata Toni menyala, dia bertanya, ‘Biar Kakek bisa beliin aku mainan lagi?’
‘Iya, itu juga.’
Aku mematikan lampu di ujung kasur. Sekarang, hanya samar cahaya dari luar yang masuk dari sela jendela. Aku melihat Toni membenarkan posisi kepalanya di atas bantal. Toni punya spot-nya sendiri di kasur. Selalu sama, di sebelah kanan, dengan bantal motif domba favoritnya.
‘Kalau bantal kamu itu warnanya abu-abu, dong?’ tanyaku.
‘Porpoise grey, Pa,’ katanya.
‘Besok ceritain bedanya, ya, Papa pengen ngerti,’ kataku.
Matanya berbinar. ‘Bener ya, Pa?’
‘Bener.’
Aku memejamkan mata, Toni memejamkan mata. Tangannya memegang kupingku. Aku melihat ke arah Toni. Matanya terbuka lebar. Dia bertanya, ‘Berapa menit, Pa, boleh megang kuping?’
‘Yang lama, gak apa-apa,’ kataku.
‘Selama apa, Pa?’
‘Selama mungkin, sampai Papa gak pernah lupa.’